Ilustrasi
Warga Mengeluh Sulit Pinjam Mobil Siaga Sajira Induk
spideylebak.my.id – Warga Mengeluh Sulit Pinjam Mobil Siaga Sajira Induk. Sampurasun, Warga Lebak! Your Friendly Neighborhood Spideylebak kembali hadir untuk menyoroti fasilitas publik yang sedang hangat diperbincangkan. Kali ini, sorotan tertuju pada Desa Sajira Induk, di mana keberadaan mobil siaga desa yang seharusnya jadi penyelamat saat darurat, justru menuai tanda tanya dari warganya sendiri.
Berikut adalah rangkuman polemik yang terjadi:
Warga Curhat Mobil Susah Diakses
Isu dugaan penyalahgunaan ini mencuat setelah sejumlah warga menyampaikan keresahannya. Mobil yang diadakan menggunakan Dana Desa ini dinilai sulit dipinjam saat warga benar-benar membutuhkan bantuan darurat.
Seorang warga berinisial A menuturkan bahwa akses terhadap kendaraan tersebut terasa terbatas. Muncul persepsi di tengah masyarakat bahwa kendaraan plat merah tersebut tidak sepenuhnya digunakan untuk kepentingan masyarakat luas, melainkan lebih sering digunakan oleh kalangan tertentu saja.
LBH Tegaskan Mobil Siaga Aset Publik, Bukan Pribadi
Menanggapi keluhan warga, Ketua LBH Aspirasi Rakyat Bersatu (ARB) Kabupaten Lebak, Andi Ambrilah, angkat bicara dengan tegas. Ia mengingatkan bahwa mobil siaga desa adalah fasilitas publik yang dibiayai oleh APBDes melalui hasil Musyawarah Desa.
Andi menekankan bahwa fungsi utama mobil tersebut adalah untuk layanan sosial, seperti mengantar warga yang sakit atau penanganan gawat darurat. Oleh karena itu, penggunaannya harus transparan, tercatat rapi, dan tidak boleh melenceng dari aturan. Jika ada indikasi penyalahgunaan, ia menyarankan warga melapor ke BPD, Camat, atau Inspektorat.
Sekdes Membantah, Sebut Hanya Salah Paham
Di sisi lain, Pemerintah Desa Sajira Induk memberikan bantahan atas tudingan tersebut. Sekretaris Desa, Lukman, mengklarifikasi bahwa mobil siaga tetap digunakan sesuai peruntukannya. Ia mengklaim pihak desa sudah sering mensosialisasikan aturan penggunaan mobil tersebut kepada warga dalam berbagai kesempatan.
Lukman juga menepis isu bahwa keluarga Kepala Desa menggunakan fasilitas itu untuk kepentingan pribadi. Menurutnya, Kepala Desa memiliki dua kendaraan pribadi di rumah dan saat ini sedang dalam kondisi kesehatan yang kurang baik, sehingga tidak menggunakan mobil siaga. Mobil tersebut hanya digunakan oleh perangkat desa jika ada kebutuhan mendesak.
Pentingnya Transparansi Aset Desa
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi seluruh pemerintah desa tentang pentingnya keterbukaan dalam pengelolaan aset. Mobil siaga adalah tumpuan harapan warga saat kondisi kritis. Harapannya, dengan adanya klarifikasi ini, tata kelola aset desa bisa lebih transparan dan akuntabel, sehingga tidak ada lagi warga yang merasa kesulitan mendapatkan pelayanan di saat darurat.
Salam dari pahlawan lokalmu, Thwip! – Spideylebak
