Penjaga Sekolah di Cibadak 25 Tahun Tinggal di Gubuk Reot
spideylebak.my.id – Penjaga Sekolah di Cibadak 25 Tahun Tinggal di Gubuk Reot. Sampurasun, Warga Lebak! Your Friendly Neighborhood Spideylebak kembali hadir membawa sebuah kisah inspiratif sekaligus menyayat hati dari dunia pendidikan kita. Di balik gerbang sekolah yang kokoh, terkadang tersimpan cerita pilu dari para penjaganya. Kali ini, sorotan tertuju pada sosok Pak Cacang Hidayat, seorang pejuang pendidikan yang pengabdiannya sungguh luar biasa meski hidup dalam keterbatasan yang ekstrem.
Berikut adalah kisah perjuangan Pak Cacang yang layak menjadi renungan kita bersama.
Potret Pilu Kehidupan Cacang, Tinggal di Rumah Miring Berlantai Tanah
Cacang Hidayat (55), warga Kampung Sanding, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cikulur, telah menghabiskan separuh hidupnya atau hampir 25 tahun mengabdi sebagai pegawai honorer penjaga sekolah dan perpustakaan di SMP Negeri 2 Cibadak. Namun, lama pengabdian itu belum berbanding lurus dengan kesejahteraannya.
Spideylebak menemukan fakta memilukan bahwa Cacang tinggal bersama istri dan enam anaknya di sebuah gubuk yang jauh dari kata layak. Bangunan tua itu kondisinya miring, rapuh, dan minim fasilitas. Tidak ada ubin keramik yang menyejukkan kaki, hanya tanah yang mengeras yang menjadi alas aktivitas keluarga sehari-hari.
Saat ditemui di rumahnya pada Jumat (12/12/2025), Cacang menuturkan kepedihannya. Jika hujan turun, ia dan keluarganya terpaksa berhimpitan di satu kamar yang atapnya masih agak utuh agar tidak kebasahan. Rasa was-was rumah akan roboh selalu menghantui setiap malam mereka.
Gaji Minim dan Perjuangan Jalan Kaki 2 Jam Setiap Pagi
Dedikasi Cacang benar-benar diuji oleh keadaan ekonomi. Selama lebih dari dua dekade bekerja, penghasilannya hanya berkisar antara Rp556.000 hingga Rp800.000 per bulan. Angka yang sangat kecil untuk menghidupi istri dan enam orang anak. Meski demikian, Cacang tetap bersyukur dan mengandalkan bantuan istri atau hasil kebun seadanya untuk bertahan hidup.
Yang lebih membuat hati terenyuh adalah perjuangannya menuju tempat kerja. Setiap hari, Cacang harus berjalan kaki sejauh 8 hingga 9 kilometer. Ia berangkat pukul 05.00 WIB pagi buta dan menempuh perjalanan sekitar dua jam hanya untuk memastikan gerbang sekolah terbuka tepat waktu bagi para siswa.
Akhirnya Lolos P3K, Cacang Simpan Mimpi Punya Rumah Layak
Setelah penantian panjang dan berkali-kali mengikuti tes, kabar gembira akhirnya datang tahun ini. Cacang dinyatakan lolos seleksi sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) Paruh Waktu. Nomor Induk Pegawai (NIP) miliknya sudah keluar dan kini ia tinggal menunggu pelantikan pada bulan Desember ini.
Meski status kepegawaiannya mulai menemui titik terang, ada satu harapan besar yang masih menggantung di benaknya. Cacang tidak memimpikan istana mewah. Ia hanya ingin memiliki rumah yang layak huni, rumah yang atapnya tidak bocor saat hujan dan tiangnya kokoh tidak mau roboh, demi keamanan keluarganya tercinta.
Semoga ada pihak dermawan atau pemerintah yang segera bergerak mewujudkan mimpi sederhana Pak Cacang ini.
