Kisah Pak Udeng di Gubuk Reyot, Luput dari Radar Pemerintah?
spideyLebak – Kisah Pak Udeng di Gubuk Reyot, Luput dari Radar Pemerintah?. Halo, warga yang budiman. Your Friendly Neighborhood SpideyLebak melapor dari ketinggian. Biasanya Spidey Sense-ku bergetar kalau ada bahaya dari penjahat super. Tapi kali ini, getarannya berbeda… getaran karena melihat ketidakadilan dan kesedihan yang mendalam.
Aku baru saja melihat sebuah kondisi yang bikin hati di balik kostum merah-biru ini terasa sesak. Ini bukan di pelosok terpencil antah berantah, lho. Ini di Kampung Kolelet Impres, Desa Pasirtangkil, Lebak. Jaraknya CUMA 15 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten! Tapi rasanya… seperti di planet lain.
Gubuk yang Lebih Mirip Saringan Air
Di sana, tinggal seorang pria lansia tangguh bernama Pak Udeng (60). Beliau bertahan hidup di sebuah gubuk berukuran 3×5 meter. Gubuk ini bukan sekadar tua, tapi sudah kritis! Lantainya tanah, kayunya rapuh dimakan usia (lebih dari dua dekade!), posisinya sudah miring, dan atapnya…
Oh boy, kalau hujan turun, gubuk ini berubah jadi wahana air.
“Kadang bocor, kadang sedikit diperbaiki tetapi tetap saja kehujanan,” kata Pak Udeng dengan nada pasrah yang bikin sedih.
Setiap malam hujan, Pak Udeng nggak bisa tidur nyenyak. Dia harus berjaga-jaga karena takut atapnya runtuh menimpa dia dan putra satu-satunya.
️ Beban Ganda Sang Ayah Tangguh
Hidup Pak Udeng ini berat banget, teman-teman. Istrinya sudah lama pergi meninggalkan mereka saat sang anak masih bayi. Dan sang anak… mengalami gangguan jiwa (ODGJ) sejak kecil.
Pak Udeng berjuang sendirian merawat anaknya tanpa bantuan medis sama sekali. Anaknya menolak berobat, dan biayanya? Jelas nggak ada.
Untuk makan sehari-hari, Pak Udeng kerja serabutan di kebun orang. Mirisnya, seringkali dia bekerja TANPA UPAH.
“Tidak digaji, hanya mengurus saja. Kadang dikasih seratus ribu seminggu, itu pun kalau ada,” tuturnya.
Mereka bertahan hidup cuma berkat kebaikan hati tetangga yang sesekali kasih beras. Ini namanya gotong royong level superhero!
❓ “Di Mana Bantuan?” Sebuah Tanda Tanya Besar
Nah, ini bagian yang bikin jaring laba-labaku kusut saking bingungnya. Dengan kondisi semiskin ini, seharusnya Pak Udeng jadi prioritas penerima bantuan, kan?
Kenyataannya: NOL BESAR.
“Tidak dapat apa-apa dari pemerintah. Beras dari desa juga tidak pernah. BPNT dan PKH apalagi, belum pernah dapat,” pengakuan Pak Udeng ini menampar kita semua.
Katanya, pihak desa belum pernah datang untuk mendata. Pak Udeng yang nggak ngerti cara mengajukan bantuan, cuma bisa pasrah.
️ Pesan Spidey: Waktunya Bertindak!
Pak Ahmad Syarifudin, tetangganya, juga bersaksi betapa memprihatinkannya kondisi mereka.
“Kasihan sekali. Untuk makan saja kadang ada, kadang tidak. Rumahnya bocor kalau hujan… Sudah tidak layak dihuni,” kata Pak Ahmad.
Teman-teman pemegang kebijakan, tolong dengarkan Spidey Sense saya kali ini. Ingat kata Paman Ben: “With great power, comes great responsibility.”
Kalian punya power (kekuasaan dan anggaran), tolong gunakan responsibility-nya untuk membantu warga seperti Pak Udeng. Berikan mereka rumah yang layak, bukan gubuk yang bikin mereka basah kuyup saat tidur.
Ayo, tunjukkan kalau kepedulian itu nyata!
Thwip! ️
